UPT Puskesmas Tanjung Palas Utara


Green Weblog Puskesmas "KREASI"
Gerakkan mouse anda dan silahkan nikmati kembali posting blog kami!

Copyright 2011 rustamedia.blogspot.com - All rights reserved

Jaminan Persalinan (JAMPERSAL)

maternity-riderPembangunan kesehatan saat ini telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Pada periode 2004 sampai dengan 2007 terjadi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 307 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 35 per 1000 kelahiran hidup menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup. Namun demikian keberhasilan tersebut masih perlu terus ditingkatkan, mengingat AKI dan AKB di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Target RPJMN Tahun 2010-2014 mengamanatkan agar AKI dapat diturunkan menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014. Selain itu, kesepakatan global Millennium Development Goals (MDGs) menargetkan AKI di Indonesia dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.

Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah pesalinan, yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetrik 5%, emboli 3%, dan lain-lain 11% (SKRT 2001).

Sosialisasi dan Pemasangan alat Kontrasepsi Gratis Di Kecamatan tanjung Palas Utara

IMG00220-20110607-1046 Program Keluarga Berencana (KB) dirumuskan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakaat melalui batas usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga, untuk mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKBBS).

Program keluarga berencana (KB) diyakini bisa menekan jumlah kematian ibu melahirkan di Indonesia yang saat ini masih tergolong sangat tinggi. Hasil survei demografi kesehatan Indonesia tahun 2007 menunjukkan angka kematian ibu mencapai 228 per 100 ribu kelahiran.
Angka kematian ibu antara lain dipicu oleh empat kondisi kehamilan yang tidak ideal yakni kehamilan yang terlalu muda, usia yang terlalu tua untuk hamil, jarak kehamilan yang terlalu dekat dan kehamilan yang terlalu banyak

Untuk mencegah empat kondisi tidak ideal itu dibutuhkan pengaturan kehamilan melalui alat kontrasepsi atau program KB. Tujuan program KB itu sendiri dibagi tiga yakni untuk menunda, menjarangkan dan membatasi kehamilan.

Untuk itulah, kemaren tanggal 7 Juni 2011, UPT Puskesmas Tanjung Palas Utara bekerja sama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana & Keluarga Sejahtera (BKKB-KS) Kabupaten Bulungan, menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pemasangan alat kontrasepsi secara gratis di Kecamatan Tanjung Palas Utara dengan mengambil tempat di Puskesmas Pembantu Desa Pimping.  Sebelumnya juga pernah dilaksanakan kegiatan serupa bertempat di Pustu Desa Ruhui Rahayu (SP5).

Mengembalikan Peran Puskesmas

poster-lingkungan-300x233 Pelan tapi pasti, pelayanan kesehatan semakin melesat mengedepankan upaya-upaya pengobatan (kuratif) dibanding dengan upaya-upaya pencegahan (preventif) dan promotif. Walaupun sebenarnya dikotomi kuratif versus preventif-promotif tidak dapat dikonfrontasikan begitu saja. Karena dalam perspektif kesehatan masyarakat semua upaya tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dikotak-kotakkan seenaknya. Suatu upaya kesehatan yang paripurna.

Tetapi dalam perkembangannya terlihat bahwa, pada akhirnya upaya kuratif lebih terlihat kontras dibandingkan upaya preventif dan promotif yang semakin kabur dalam pembangunan kesehatan. Melihat gambaran apa yang sedang dilakukan pemerintah dalam pembangunan kesehatan, sebenarnya mudah saja. Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan terdepan di masyarakat, dapat dijadikan sebagai tolok ukur pengamatan. Apakah upaya preventif dan promotif dikerjakan dengan sungguh-sungguh, atau hanya sebagai upaya yang dikerjakan asal semaunya saja.

Fenomena tersebut dimungkinkan terjadi karena kelangkaan maupun komposisi tenaga kesehatan yang tidak berimbang, lebih banyak tenaga kesehatan yang berorientasi kuratif dibandingkan preventif dan promotif. Sehingga biasanya kegiatan atau program yang berorientasi pada upaya preventif dan promotif dikerjakan setelah selesai pelayanan kesehatan dalam arti kuratif. Apalagi saat ini banyak puskesmas yang berubah menjadi miniatur rumah sakit, dengan merubah status menjadi puskesmas dengan perawatan. Sehingga tenaga kesehatan yang ada terkonsentrasi pada upaya mengelola rawat inap.

Perilaku Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Kesehatan – Antara Realitas dan Harapan

oleh : Drg. Bambang Roesmono, MM.

42-15591108 Salah satu strategi untuk mencapai Visi Indonesia Sehat 2015 adalah dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan sasaran utamanya antara lain: disetiap desa tersedia SDM Kesehatan yang kompeten, dan Pelayanan Kesehatan di setiap Rumah Sakit, Puskesmas, dan Jaringannya memenuhi standar mutu.  Aburizal Bakrie, dalam opininya (Kompas 24/05/2006) mengatakan bahwa: perbaikan kesenjangan hanya bisa dicapai dengan melakukan investasi pembangunan manusia, baik dalam meningkatkan akses dan kualitas di bidang pendidikan dan layanan di bidang kesehatan.
Dalam tiga dekade ini derajat kesehatan di Indonesia telah mengalami peningkatan yang bermakna, tetapi bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, maka peningkatan tersebut masih terhitung rendah. Permasalahan utama yang dihadapi adalah masih rendahnya kualitas kesehatan masyarakat yang terlihat pada Renstra Depkes RI 2005-2009, dengan masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB): 32/1000 kelahiran hidup (2005), Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI): 262/100.000 kelahiran (2005), dan Usia Harapan Hidup (UHH): 69 tahun. Kualitas kesehatan masyarakat pada wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI) nampak sekali ketimpangannya, ditambah masih rendahnya strata ekonomi dan pendidikan. Untuk itu, perlu diupayakan suatu pelayanan kesehatan yang bermutu, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, yang dapat diterima seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata, diwilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rapat Evaluasi Program Triwulan I di UPTD Puskesmas Tanjung Palas Utara

IMG00184-20110430-1154 Pada hari Sabtu tanggal 30 April 2011, bertempat di ruang rapat UPT Puskesmas Tanjung Palas Utara telah diselenggarakan pertemuan evaluasi lintas program triwulan I, yang diikuti oleh seluruh staf UPT Puskesmas, dan Puskesmas Pembantu se kecamatan Tanjung Palas Utara.  Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa hal diantaranya meliputi hasil pencapaian target program, masalah yang dihadapi serta upaya tindak lanjut, selain itu juga dilakukan sinkronisasi  dan validasi data program antara pemegang program induk dengan petugas Pustu.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Kepala UPT Puskesmas Tanjung Palas Utara, dengan agenda pertemuan yaitu pengantar dari Kepala UPT Puskesmas, meliputi target kinerja yang harus dicapai khususnya dalam rangka mendukung percepatan Bulungan Sehat, Standar Pelayanan Minimal serta Millennium Development Goals (MDGs), sosialisasi koordinator Kelompok Kerja (Pokja) serta pemaparan tugas dan fungsi kelompok kerja (Pokja).  Setelah pengantar dari Kepala UPT Puskesmas, dilanjutkan dengan presentasi kinerja program oleh Petugas Pustu, 10 besar penyakit selama triwulan I, jenis pelayanan yang diberikan di Pustu, kendala apa saja yang dihadapi serta  upaya yang akan dilakukan.  Setelah seluruh Pustu (5 buah Pustu) menyampaikan presentasi, dilanjutkan pemaparan target dan cakupan program oleh pemegang program induk sekaligus sinkronisasi dan validasi data.

Facebook Twitter Delicious Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger